Senin, 12 Januari 2009

EKOTOKSIKOLOGI

EKOLOGI
> Ilmu yg mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dgn lingkunganx

TOKSIKOLOGI
> Ilmu yg mempelajari kerusakan pd organisme yg diakibatkan oleh suatu materi, substansi n energi

EKOTOKSIKOLOGI
> Ilmu yg mempelajari efek2 toksik dr zat kimia n fisik pd organisme hidup , terutama masyarakat dgn ekosistem tertentu.

* EKOTOKSIKOLOGI mempelajari dampak pd populasi organisme hidup/ekosistem

TOKSIN/RACUN
> Berupa zat kimia, fisis n biologis
> Zat yg dlm dosis yg dpt menimbulkan kerusakan pd jaringan hidup

KERACUNAN
> Keadaan tdk normal akibat efek racun krn kecelakaan, bunuh diri

TOKSISITAS
> Lokasi organ yg rentan

TOKSISITAS
1. Spesies
2. Portal of entry
3. Bentuk/sifat kimia

EFEK KERACUNAN
1. Akut > paparan terjdi kurang dr 24 jam

2. Subakut > paparan terulang untuk waktu 1 bulan

3. Kronis > terulang bila lebih dr 3 bulan

4. Subkronis > paparan terulang 1-3 bulan

DITENTUKAN OLEH
> WAKTU
> LOKASI ORGAN

XENOBIOTIK

> Zat yg asing bg tubuh , dpt diperoleh dr luar tubuh/dr dlm tubuh

> Organisme terpajan oleh zat xenobiotik dpt menimbulkan efek biologis

> DI ALAM
1. Racun alamiah
2. Racun buatan

KLASIFIKASI ZAT TOKSIK

1. Sumber
> Alamiah
> Buatan
> Domestik, industrial

2. Dasar jenis
> Wujud
> Sifat kimia
> Terbentuknya

EFEK KESEHATAN

1. Fibrosis > pertumbuhan jaringan ikat dlm jumlah yg berlebihan

2. Granuloma > benjolan akibat proses peradangan menahun

3. Demam > meningkatnya temperatur tubuh

4. Asphyxia > keadaan dimana darah & jaringan kekurangan O2

5. Alergi > reaksi berlebih terhadap materi tertentu

6. Kanker > pertumbuhan sel yg tdk terkendali

7. Mutasi > perubahan susunan & jumlah gen

8. Teratogen > cacat

9. Sistemik > racun yg menyerang hampir ke seluruh organ tubuh

TOKSOKINETIKA
> Ilmu yg mempelajari perwatakan / karakteristik bergerakx racun dlm tubuh mencakup kinetika absorbsi, distribusi

TOKSODINAMIKA
> Interaksi antara racun dan organ target

PORTAL ENTRY
> Pintu masukx xenobiotik ke dlm tubuh organisme
terdiri :
1. Mulut
2. Saluran pernafasan
3. Kulit
4. Suntikan

DOSIS
> Jumlah xenobiotik yg masuk kedlm tubuh

1. Dosis toxica
> dosis yg mengakibatkan keracunan

2. Dosis letalis
> dosis toxica dapat menyebabkan kematian

ABSORBSI
> Pengambilan xenobiotik dr permukaan tubuh/ dr tempat2 tertentu dlm organ dlm aliran darah

* SALURAN PENCERNAAN MERUPAKAN JALUR PENTING MASUKX TOXIKAN *

TDK MUDAH MASUK PEREDARAN DARAH

1. Adanya enzim hidrolitik dlm saluran pencernaan

2. Lambung mengandung asam lambung yg keras

3. Usus besar tdk terjadi pengenceran

4. Peristaltik

5. Dlm usus terjadi proses seleksi

RESEPTOR
> Tempat sensitive terhadap agent dimana agent menempel dan berinteraksi
> Konsep " zat reseptor " sbg tempat kerja zat kimia

ORGAN SASARAN
> Toksikan tdk mempengaruhi semua organ scr merata

Bagian yg potensial dipengaruhi :
1. Nukleus
2. Mitokondria
3. Lisosom
4. Retikulum endoplasma

Transgenik

Pangan Transgenik, bahaya atau tidak?


Masih ingatkah dengan makanan berformalin?, mengandung bahan pengawet? Mengandung bahan pewarna, makanan kadaluarsa, makanan dan minuman bermelamin yang sekarang sudah mewabah di China? Makanan Sampah yang masih diproduksi lagi untuk dimakan, dan makanan dan minuman yang lainnya yang tidak layak dimakan dan belum terpublikasikan.

Dan kemaren saat sedang ngobrol dengan Ivonne teman dari Unpad fakultas Hukum yang sedang mengambil thesis tentang pangan transgenik.tambah lagi keresahan dalam mengkonsumsi makanan. Karna penasaran, saya langsung aja tanya sama Ivonne : ”apa itu pangan transgenik ?, dan apa hubungannya dengan hukum ? ”

Survei oleh sebuah stasiun televisi swasta setelah pengumuman YLKI tentang pangan berbahan transgenik di Indonesia menunjukkan, hanya dua dari 10 orang yang tahu arti pangan transgenik

Nah 1 dari 10 orang itu termasuk saya, satunya lagi mungkin anda..hehe…..

Sekilas tentang PRG

Perjalanan suatu bahan pangan hingga disebut sebagai pangan transgenik sebenarnya cukup panjang, dan tentunya telah mengalami proses penelitian yang cukup lama. Akan tetapi, pro dan kontra tentang efek dari mengkonsumsi makanan trangenik masih saja terjadi.

Kemajuan teknologi dan penelitian telah mencapai struktur terkecil dari unsur penyusun mahluk hidup, yaitu gen. Gen inilah factor terkecil mengapa fisiologis manusia, hewan, dan tumbuhan dapat dibedakan. Manusia bermata biru, hidung mancung, berpenyakit jantung, semua dikarenakan adanya gen yang spesifik. Informasi yang unik pada setiap spesies disimpan dalam jalinan DNA dan sifat ini diturunkan ke generasi selanjutnya.

Pada tahapan selanjutnya, karakterisasi gen telah mampu menghasilkan urut-urutan tertentu yang menghasilkan sifat unik suatu spesies mahluk hidup. Urut-urutan ini kemudian secara sederhana dapat disimpan dalam wujud plasmid. Plasmid ini dapat dipindah-pindahkan ke organisme lain, sehingga memiliki sifat unik yang sama dari spesies asalnya.

Dulu, kawin silang dikenal sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki keturunan. Namun, kawin silang ini masih terbatas pada spesies yang memiliki kedekatan, misalnya antar varietas. Rekayasa genetika jauh lebih canggih dibandingkan proses kawin silang, karena plasmid dapat dipindah-pindahkan tanpa memperdulikan taksonomi atau kedekatan spesies.

Pada awalnya, proses rekayasa genetika dilakukan untuk menciptakan mahluk yang sempurna. Dalam bidang pertanian misalnya, tomat yang awalnya tidak bisa ditanam di daerah bersuhu rendah direkayasa supaya dapat menjadi tanaman tahan beku dan memiliki musim tumbuh lebih lama. Caranya sungguh unik, yakni dengan “menggunting” gen ikan flounder (ikan yang hidup di daerah es di Arktik) dan “merekatkan” gen tersebut pada buah bulat merah ini. Hasilnya, tomat pun dapat ditanam di segala cuaca. Contoh lain adalah kedelai yang rawan akan hama lantas disisipi bakteri dari tanah yang mampu mengeluarkan pestisida alami. Alhasil, hama yang menyerang kedelai akan mati dengan sendirinya. Dalam bidang industri medis, diciptakan mikroba yang mampu menghasilkan rennet untuk bahan baku keju, insulin untuk penderita diabetes. Dikarenakan gen akan diturunkan ke generasi selanjutnya, perubahan genetika ini bersifat permanen pada mahluk hidup tersebut. Tentu saja dalam jumlah yang besar keseimbangan alam akan berubah. Belum lagi kalau terjadi kawin silang dengan spesies yang dekat kekerabatannya. Secara sederhananya, proses rekayasa genetika dari yang terkendali berubah menjadi tidak terkontrol lagi.

Kebanyakan industri pertanian dan medis negara maju telah menggunakan rekayasa genetika di dalam proses produksinya, Karena di negera mereka sendiri, aturan pemasaran pangan transgenik sangat ketat, negara berkembang menjadi pasar potensial mereka. Kabarnya, kedelai yang diimpor dari Amerika sebagian besar merupakan hasil rekayasa genetika. Begitu pula dengan jagung, tomat, dan apel.Negara yang melakukan penanaman komersial produk transgenik biasanya melakukan analisis keamanannya, termasuk konsekuensi langsung dan tidak langsung. Konsekuensi langsung, misalnya, kajian apakah terjadi perubahan nutrisi, munculnya efek alergi, atau toksisitas akibat rekayasa genetika.

Konsekuensi tidak langsung, misalnya, efek baru yang muncul akibat transfer gen, perubahan level ekspresi gen pada tanaman sasaran, serta pengaruhnya terhadap metabolisme tanaman. Beberapa efek lain yang seringkali tidak dsapat diantisipasi perlu juga dikaji, misalnya, gene silencing, interupsi sekuens penyandi, atau berubahnya sistem regulasi gen-gen.

Karena pangan merupakan hal yang sangat kompleks, maka kajian keamanan pangan yang sederhana (sebagai contoh menganalisis kandungan peptisida, logam berat, dan senyawa toksik dalm pangan) tidak dapat dilakukan.

Namun kontroversi masih terjadi, karena sebagai produk teknologi baru risiko jangka panjangnya belum diketahui. Ilmuwan sendiri, tidak akan pernah mampu menyatakan bahwa suatu produk 100 persen aman karena risiko sekecil apapun akan tetap ada.

Beberapa bahan makanan yang banyak berasal dari bibit transgenik

  • Produk yang terbuat dari kacang kedelai: tepung kedelai, minyak kedelai, tahu, tempe, tauco, susu kedelai, ekstrak sayuran. Atau produk lain yang merupakan turunan kedelai transgenik seperti vitamin E, sereal, es krim, biskuit, roti, permen, makanan gorengan, tepung, saus, dan lain-lain.
  • Produk yang terbuat dari jagung: tepung jagung, minyak jagung, pemanis jagung, sirop jagung. Kemudian produk turunan jagung transgenik seperti vitamin C, keripik, es krim, formula bayi, kecap, soda, dan lain-lain.
  • Produk yang terbuat dari kentang: keripik kentang, tepung kanji kentang, dan lain-lain.
  • Produk yang terbuat dari atau dengan tomat, seperti saus, pasta tomat, pizza, lasagna, dan lainnya.
  • Produk susu yang diambil dari sapi yang diberi hormon pertumbuhan sapi transgenik (atau rBGH di AS): seperti susu, keju, mentega, krim asam, yogurt, air dadih, dan produk olahannya.
  • Zat-zat aditif yang mungkin berasal dari sumber transgenik, yaitu Lesithin kedelai/lesithin (E322), pewarna karamel (E150), riboflavin (vitamin B2), enzim chymosin (enzim transgenik yang dipakai untuk membuat keju vegetarian, alpha amilase yang digunakan untuk membuat gula putih, dan lain-lain).

Ini Dia Produk Transgenik

  • Keripik kentang Mister Potato, produksi PT Pasific Food Indonesia. No Depkes BPOM RI ML 255501031081.
  • Keripik kentang Pringles, diimpor oleh PT. Procter & Gamble Home Products Indonesia. No. Depkes BPOM RI ML 362204007321.
  • Tepung jagung Honig Maizena, diimpor oleh Fa. Usahana. No Depkes ML 328002001014.

Bagaimana PRG di atur di Indonesia?

Mengenai PRG sendiri di Indonesia diatur dalam UU Nomor 7 tentang Pangan yang memperbolehkan penggunaan produk pangan transgenik. UU diperkuat dengan PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan, dan PP No.28/2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan, yang menjelaskan mengenai definisi, pemeriksaan keamanan, serta persyaratan dan tata cara pemeriksaan pangan produk rekayasa genetika.

Dalam PP No. 69/1999 pasal 35 disebutkan bahwa pada label untuk pangan rekayasa genetik wajib dicantumkan tulisan PANGAN REKAYASA GENETIK.

Dalam ayat berikutnya disebutkan bahwa dalam hal pangan hasil rekayasa genetik merupakan bahan yang digunakan dalam suatu produk pangan, pada label cukup dicantumkan keterangan tentang pangan rekayasa genetika pada bahan yang merupakan pangan hasil rekayasa genetik tersebut saja.

Meskipun demikian, YLKI meminta pengaturan mengenai ambang batas kandungan maksimum bahan rekayasa genetik yang terdapat dalam satu produk.

Pendapat saya?

Merupakan tanggung jawab pemerintah dalam mengatur produsen untuk mecantumkan label PANGAN REKAYASA GENETIK .Walaupun belum diketahui efek negatif dari mengkonsumsi pangan transgenik, setidaknya kita sebagai konsumen bisa memilih dan lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan

Dalam PP No. 69/1999 pasal 35 disebutkan bahwa pada label untuk pangan rekayasa genetik wajib dicantumkan tulisan PANGAN REKAYASA GENETIK.

Mekanisme kerja antioksidan

Antioksidan

Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak dan minyak. Meskipun demikian antioksidan dapat pula digunakan untuk melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya

Mekanisme kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak. Untuk mempermudah pemahaman tentang mekanisme kerja antioksidan perlu dijelaskan lebih dahulu mekanisme oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri dari tiga tahap utama yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya satu atom hidrogen (reaksi 1). pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam lemak akan bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi (reaksi 2). Radikal peroksi lebih lanjut akan menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (reaksi 3).

Inisiasi : RH —- R* + H* (1)

Propagasi : R* + O2 —–ROO* (2)

ROO* + RH —–ROOH +R* (3)

Hidroperoksida yang terbentuk bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkan senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yang bertanggungjawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya antioksidan, reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar radikal bebas membentuk kompleks bukan radikal (reaksi 4)

Terminasi : ROO* +ROO* —- non radikal (reaksi 4)

R* + ROO* —- non radikal

R* + R* —– non radikal

Antioksidan yang baik akan bereaksi dengan radikal asam lemak segera setelah senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagai antioksidan yang ada, mekanisme kerja serta kemampuannya sebagai antioksidan sangat bervariasi. Seringkali, kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengan satu jenis antioksidan saja. Sebagai contoh asam askorbat seringkali dicampur dengan antioksidan yang merupakan senyawa fenolik untuk mencegah reaksi oksidasi lemak.

Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat dapat juga disebut bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikan efektivitas antioksidan utamanya.

Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai antioksidan harus mempunyai sifat-sifat : tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahap pada kondisi pengolahan pangan umumnya.

Berdasarkan sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua jenis yaitu jenis pertama, antioksidan yang bersifat alami, seperti komponen fenolik/flavonoid, vitamin E, vitamin C dan beta-karoten dan jenis ke dua, adalah antioksidan sintetis seperti BHA (butylated hydroxyanisole), BHT (butylated hydroxytoluene, propil galat (PG), TBHQ (di-t-butyl hydroquinone). Tabel 1. Menunjukan komponen-komponen flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan beserta sumbernya

BHA (Butylated Hydroanisole). BHA merupakan campuran dari 2 isomer yaitu 2- dan 3-tertbutilhidroksianisol . Diantara ke dua isomer, isomer 3-tert memiliki aktifitas antioksidan yang lebih efektif dari isomer 2-tert. Bentuk fisik dari BHA adalah padatan putih menyerupai lilin, bersifat larut dalam lemak dan tidak larut dalam air

BHT (Butylated Hydroxytoluene). Sifat-sifat BHT sangat mirip dengan BHA dan bersinergis dengan BHA.

Propil Galat. Propil galat merupakan ester dari propanol dari asam trihidroksi benzoat. Bentuk fisik dari propil galat adalah kristal putih. Propil galat memiliki sifat-sifat : (1) dapat bersinergis dengan BHA dan BHT, (2) sensitif terhadap panas, (3) membentuk kompleks berwarna dengan ion logam, oleh karenanya jika dipakai dalam makanan kaleng dapat mempengaruhi penampakan produk.

TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone). TBHQ merupakan antioksidan yang paling efektif dalam minyak makan dibandingkan BHA, BHT, PG dan tokoferol. TBHQ memiliki sifat-sifat (1) bersinergis dengan BHA (2) cukup larut dalam lemak (3) tidak membentuk komplek dengan ion logam tetapi dapat berubah menjadi merah muda, jika bereaksi dengan basa

Dosis pengunaan dari masing-masing antioksidan sintetik ini tidak sama untuk masing-masing negara. Tabel 2 menunjukkan dosis pemakaian antioksid BHA, BHT, Galat dan TBHQ pada beberapa negara

Tabel 1. Beberapa contoh komponen flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan

Komponen

Sumber

Vitamin

Vitamin C

Vitamin E

Buah-buahan & sayuran

Padi-padian, kacang-kacangan dan minyak

Anthosianidin

Oenin

Cyanidin

Delphinidin

Anggur (wine)

Buah anggur, raspberri, strawberri

Kulit buah aubergine

Flavo-3-ols

Quercertin

Kaempferol

Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli

Leek, brokoli, buah anggur dan teh

Flavonone

Rutin

Luteolin

Chrysin

Apigenin

Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli

Lemon, olive, cabe merah

Kulit buah

Celery dan parsley

Flavan-3-ols

(Epi)catecin

Epigallocatecin

Epigallocatecin gallate

Epicatecin gallate

Red/black grape wine

Tea

Tea

Tea

Flavonone

Taxifolin

Narirutin

Naringenin

Hesperidin

Hesperetin

Buah jeruk citrus

Buah jeruk citrus

Buah jeruk citrus

Jus Orange

Jus Orange

Theaflavin

Theaflavin

Theaflavin-3-gallate

Theaflavin-3’-gallate

Theaflavin digallate

Black tea

Black tea

Black tea

Black tea

Hydroxycinnamat

Caffeic acid

Chlorogenic acid

Ferulic acid

p-Coumaric acid

Buah anggur putih, olive, asparagus

Buah apel, pir, cherry, tomat dan peach

Padi-padian, tomat, asparagus

Buah anggur putih, tomat, asparagus

Tabel 2. Dosis maksimum pemakaian antioksidan pada beberapa negara

Negara

Antioksidan (ppm)

BHA

BHT

Gallate

TBHQ

USA

200

200

150

200

UK

200

200

100

-

Eire

200

200

100

-

Belgium-Retail

100

100

100

-

-Manufacturing

400

400

400

-

Belanda-Retail

100

100

100

-

- Manufacturing

400

400

400

-

Italia

300

300

100

-

Perancis

100

100

100

-

Luxembourg

100

100

100

-

Denmark

100

100

50

-

Jerman Barat

Tidak diizinkan untuk lemak dan minyak, hanya untuk makanan tertentu

-

Anti Kempal

Anti kempal adalah senyawa anhidrat yang dapat mengikat air tanpa menjadi basah dan biasanya ditambahkan ke dalam bahan makanan yang bersifat bubuk/partikulat seperti garam meja. Tujuan penambahan senyawa anti kempal adalah untuk mencegah terjadinya penggumpalan dan menjaga agar bahan tersebut dapat dituang (free flowing)

Senyawa anti kempal biasanya merupakan garam-garam anhidrat yang bersifat cepat terhidrasi dengan mengikat air, atau senyawa-senyawa yang dapat mengikat air melalui pengikatan dipermukaan (surface adhesion) tanpa menjadi basah dan menggumpal. Senyawa-senyawa tersebut biasanya adalah senyawa yang secara alami berbentuk hampir kristal (near crystalline).

Senyawa anti kempal dapat digolongkan menjadi (1) garam (aluminium, amonium, kalsium, potasium dan sodium) dari asam lemak rantai panjang (miristat, palmitat, stearat) ; (2) kalsium fosfat; (3) potasium dan sodium ferisianida; (4) magnesium oksida dan (5) garam (aluminium, magnesium, kalsium dan campuran kalsium aluminium) dari asam-asam silikat. Senyawa golongan 1, 2, dan 3 membentuk hidrat, sedangkan 4 dan 5 menyerap air. Potasium dan sodium ferosinida tidak banyak lagi digunakan karena tokisitasnya yang relatif tinggi. Jumlah yang ditambahkan biasanya berkisar pada 1% berat bahan pangan. Senyawa anti kempal umumnya dapat dimetabolisme atau tidak toksik pada tingkat penggunaan yang diijinkan.

Kalsium silikat banyak digunakan untuk menghindari penggumpalan baking powder dan mempunyai kemampuan untuk mengikat air 2,5 kali dari beratnya. Selain mengikat air, kalsium silikat juga dapat mengikat minyak dan senyawa-senyawa non polar lainnya. Sifat ini yang membuat kalsium silikat banyak digunakan di dalam campuran-campuran yang mengandung bumbu, terutama yang kandungan minyaknya tinggi. Kalsium stearat sering digunakan sebagai prossesing aid dalam pembuatan permen keras (hard candy). Senyawa anti kempal yang relatif baru dikembangkan adalah bubuk selulosa berkristal mikro (microcrystalline cellulose powder) dan banyak digunakan untuk produk keju parut agar tidak membentuk gumpalan

Pemanis Buatan

Pemanis merupakan komponen bahan pangan yang sangat umum, oleh karena itu agak aneh jika dimasukkan ke dalam daftar bahan tambahan makanan. Oleh karena itu yang termasuk BTM adalah pemanis pengganti gula (sukrosa). Pemanis, baik yang alami maupun sintetis, merupakan senyawa yang memberikan persepsi rasa manis tetapi tidak mempunyai nilai gizi (non-nutritive sweeteners)

Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai pemanis, kecuali berasa manis harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, seperti (1) larut dan stabil pada kisaran pH yang luas, (2) stabil pada kisaran suhu yang luas, (3) mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai side atau aftertaste dan (4) murah, setidaknya tidak melebihi harga gula (sukrosa).

Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun demikian, senyawa-senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu memiliki sistem donor/akseptor proton (sistem AH/B) yang cocok dengan sistem reseptor (AH/B) pada indera perasa manusia.

Sakarin, merupakan pemanis tertua, termasuk pemanis yang sangat penting peranannya dan biasanya dijual dalam bentuk garam Na atau Ca. Tingkat kemanisan sakarin adalah 300 kali lebih manis daripada gula. Karena tidak mempunyai nilai kalori, sakarin sangat populer digunakan sebagai pemanis makanan diet. Pada konsentrasi tinggi sakarin mempunyai aftertaste pahit. Meskipun hasil pengujian pada hewan percobaan menunjukan kecendrungan bahwa sakarin menimbulkan efek karsinogenik tetapi hal ini belum dapat dibuktikan oleh manusia.

Siklamat merupakan pemanis non-nutritif yang tidah kalah popularnya setelah sakarin. Tingkat kemanisannya 30 kali lebih manis daripada gula dan tidak memberikan after taste. Pada tahun 1970-an di Amerika, Canada dan Inggris siklamat dilarang penggunaannya karena produk degradasinya yaitu sikloheksil amina bersifat karsinogenik

Aspartam atau metil ester dari L-aspartil-L-fenilalanin merupakan pemanis baru yang penggunaannya mulai marak sekitar tahun 1980-an untuk produk-produk minuman ringan. Aspartam merupakan pemanis yang mempunyai nilai kalori karena aspartam merupakan suatu dipeptida, namun karena tingkat kemanisannya yang tinggi (200 kali sukrosa) maka hanya ditambahkan dalam jumlah yang kecil sehingga nilai kalorinya dapat diabaikan. Karena merupakan dipeptida, sapartam mudah terhidrolisis, mudah mengalami reaksi kimia yang biasa terjadi pada komponen pangan lainnya dan mungkin terdegradasi oleh mikroba. Hal tersebut tentunya merupakan limitasi penggunaan aspartam pada produk-produk pangan berkadar air tinggi. Jika mengalami hidrolisis aspartam akan kehilangan rasa manisnya. Di dalam makanan aspartam dapat mengalami kondensasi intramolukuler menghasilkan diketo piperazin.

Asesulfam K. Setelah aspartam, pemanis sintetik yang disetujui penggunaanya dalam bahan pangan adalah asesulfam K. Asesulfam K adalah senyawa 6-metil-1,2,3-oksatizin-4(3H)-on-2,2-dioksida atau merupakan asam asetoasetat dan asam sulfamat. Tingkat kemanisan asesulfam adalah 200 kali lebih manis daripada sukrosa. Pengujian laboratorium telah membuktikan bahwa sesulfam K tidak berbahaya bagi manusia dan stabilitasnya selama pengolahan sangat baik.

Pengawet

Pengawet berfungsi untuk memperpanjang umur simpan suatu makanan dan dalam hal ini dengan jalan menghambat pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu sering pula disebut sebagai senyawa antimikroba.

Berbagai senyawa mempunyai sifat sebagai antimikroba, diantaranya sulfit dan sulfurdioksida, garam nitrit dan nitrat, asam sorbat, asam propionat, asam asetat, asam benzoat. sulfurdioksida telah lama digunakan dalam makanan sebagai pengawet dan penggunaanya berkembang menjadi berbagai bentuk seperti gas SO2, garam bisulfit dan sulfit. Penelitian menunjukan bahwa sulfurdioksida paling efektif bekerja pada kondisi pH rendah dan diperkirakan hal ini disebabkan oleh H2SO3 yang dalam larutan tidak berdisosiasi. Dalam keadaan tidak terdisosiasi, asam tersebut lebih mudah menembus dinding sel mikroba. Selain bertindak sebagai pengawet sulfurdioksida juga dapat mencegah terjadinya pencoklatan non enzimatis (reaksi Maillard) yaitu dengan cara bereaksi dengan gula pereduksi maupun senyawa antar aldehida. Sulfurdioksida juga mempunyai efek memucatkan pigmen melanoidin yang terbentuk pada reaksi Maillard sehingga sangat efektif dalam mencegah reaksi pencoklatan tersebut. Sulfurdioksida juga sering ditambahkan ke dalam tepung untuk memutus ikatan disulfida pada protein dan memperbaiki mutu adonan yang dihasilkan. Sulfurdioksida dan sulfit dapat dimetabolisme menjadi sulfat dan dieksresi ke dalam urin tanpa efek sampingan lainnya. Sulfurdioksida atau sulfit biasanya ditambahkan pada konsentrasi sekitar 500 – 1000 ppm, tergantung dari tujuan penambahan dan jenis makanan.

Garam potasiium atau sodium dari nitrit dan nitrat ditambahkan pada proses curing daging, juga dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Senyawa yang berperan adalah nitrit dan pada konsentrasi 150-200 ppm dapat menghambat pertumbuhan Clostridia di dalam daging yang dikalengkan. Meskipun demikian, penggunaan nitrit saat ini dihindari karena diduga menghasilkan nitrosamin yang bersifat karsinogenik.

Asam sorbat yang merupakan asam mono karboksilat dan anolog-analognya memiliki ikatan rangkap a (a-unsaturated) mempunyai sifat antimikroba yang sangat kuat. Asam ini biasanya digunakan dalam bentuk garam sodium dan potasiumnya dan diketahui efektif menghambat pertumbuhan kapang dan ragi di dalam berbagai makanan seperti keju, produk-produk bekeri, sari buah, anggur dan acar. Asam sorbat sangat efektif menekan pertumbuhan kapang dan tidak mempengaruhi cita rasa makanan pada tingkat penambahan yang diperbolehkan (sampai 0,3% berat bahan). Aktivitas asam sorbat dan analog-analog asam lemaknya diperkirakan karena mikroba tidak dapat memetabolisme sistem dien dengan ikatan rangkap a. Diperkirakan asam sorbat mengganggu aktivitas enzime dehidrogenase asam lemak pada awal aktivitasnya.

Asam propionat dan asetat juga berperan sebagai anti mikroba terutama kapang dan beberapa bakteri. Asam propionat biasanya digunakan dalam bentuk garam natrium dan kalsium. Senyawa ini secara alami terdapat di dalam keju swiss (sampai 1% berat). Asam propionat selain dapat menghambat kapang juga dapat menghambat pertumbuhan Bacillus mesentericus yang menyebabkan kerusakan ropy bread. Seperti halnya antimikroba lain, asam propionat dalam bentuk tidak terdisosiasi bersifat lebih poten. Toksisitas asam propionat bagi kapang dan sebagian bakteri diakibatkan oleh ketidakmampuan mikroba-mikroba tersebut dalam memetabolisme rangkain 3-karbon.

Penggunaan asam asetat dalam pengawetan pangan sudah sejak lama, seperti pada pengacaran (pickle), selain cuka (4 % asam asetat). Selain sebagai antimikroba, asam asetat juga berkontribusi terhadap cita rasa makanan seperti pada mayones, acar, saos tomat dan lain-lain. Aktivitas antimikroba asam asetat meningkat dengan menurunya pH

Asam benzoat seringkali digunakan sebagai antimikroba dalam makanan seperti sari buah, minuman ringan dan lain-lain. Garam sodium dari asam benzoat lebih sering digunakan karena bersifat lebih larut air daripada bentuk asamnya. Asam benzoat sangat poten terhadap ragi dan bakteri dan paling efektif dalam menghambat pertumbuhan kapang. Asam benzoat sering dikombinasikan dengan asam sorbat dan ditambahkan dalam jumlah sekitar 0,05-0,1% berat bahan.

Pewarna Makanan

Penentuan mutu bahan makanan pada umumnya sangat tergantung pada beberapa faktor diantaranya citarasa, warna tekstur dan nilai gizi. Tetapi sebelum faktor-faktor tersebut dipertimbangkan secara fisual faktor warna tampil lebih dahulu dan terkadang sangat menentukan. Selain sebagai faktor yang ikut menentukan mutu, warna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan buah. Warna juga dapat menunjukkan apakah suatu pencampuran atau pengolahan sudah dilakukan dengna baik atau belum.

FDA mendefinisikan pewarna tambahan sebagai ‘pewarna, zat warna atau bahan lain yang dibuat dengan cara sintetik/kimiawi atau bahan alami dari tanaman, hewan atau sumber lain yang diekstrak, disiolasi, yang bila ditambahkan atau digunakan ke bahan makanan, obat atau kosmetik, bisa menjadi bagian dari warna bahan tersebut’.

Terdapat lima sebab yang dapat menyebabkan suatu bahan berwarna yaitu :

1.Pigmen yang secara alami terdapat pada hewan maupun tanaman

2.Reaksi karamelisasi yang menghasilkan warna coklat

3.Reaksi Maillard yang dapat menghasilkan warna gelap

4.Reaksi oksidasi

5.Penambahan zat warna baik zat warna alami (pigmen) maupun sintetik

Pada pengolahan makanan moderen, bahan pewarna sering ditambahkan dengan tujuan untuk memperbaiki warna dari bahan makanan atau untuk memperkuat warna asli dari bahan bahan makanan tersebut.

Dalam Bab ini pembahasan mengenai zat warna dibatasi hanya untuk zat warna alami (pigmen) dan zat warna sintetik yang termasuk golongan bahan tambahan makanan.

Pewarna alami, sebagaimana kita telah ketahui, banyak jenis tanaman dan hewan yang mempunyai warna-warna yang indah dan cemerlang. Pemakaian zat warna yang berasal dari tanaman dan hewan ini telah lama dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu kita, misalnya daun pandan, daun suji, kunyit dan sebagainya.

Klorofil adalah zat warna alami hijau yang umumnya terdapat pada daun, sehingga sering disebut zat warna hijau daun. Zat warna ini sering diassosiasikan dengan kesegaran sayur-sayuran atau belum masak pada buah-buahan. Terdapat 2 jenis klorofil yang telah berhasil diisolasi yaitu klorofil a dan klorofil b. keduanya terdapat pada tanaman dengan perbandingan 3 :1.

Klorofil a termasuk dalam pigmen yang disebut porfirin; hemoglobin juga termasuk di dalamnya.Klorofil a mengandung atom Mg yang diikat dengan N dari 2 cincin pirol dengan ikatan kovalen serta oleh dua atom N dari dua cincin pirol lainmelalui ikatan koordinat; yaitu N dari pirol yang menyumbangkan pasangan elektronnya pada Mg (pada gambar dinyatakan dengan garis putus-putus).

Dalam proses pengolahan pangan, perubahan yang paling umum terjdai ialah penggantian atom magnesium dengan atom hidrogen yang membetnuk feofitin ditandai dengan perubahan warna dari hijau menjadi coklat olive yang suram.

Mioglobin dan hemoglobin ialah zat warna merah pada daging yang tersusun oleh protein globin dan heme yang mempunyai inti berupa zat besi. Heme merupakan senyawa yang terdiri dari dua bagian yaitu atom zat besi dan suatu cincin plana yang besar yaitu porfirin. Porfirin tersusun oleh empat cincin pirol yang dihubungkan satu dengan lainnya dengan jembtan meten. Heme juga disebut feroprotoporfirin.

Baik hemoglobin maupun mioglobin memiliki fungsi yang serupa yaitu berfungsi dalam transfor oksigen untuk keperluan metabolisme.

Karotenoid merupakan kelompok pigmen yang berwarna kuning, oranye, merah oranye yang terlarut dalam lipida (minyak), berasal dari hewan maupun tanaman, misalnya fukoxanthin yang terdapat didalam lumut, lutein, violaxanthin, dan neoxanthin terdapat pada dedaunan, likopen pada tomat, kapsanthin pada cabe merah, biksin pada annatto, caroten pada wortel, dan astazanthin pada lobster.

Anthosianin dan anthoxanthin tergolong pigmen yang disebut flavonoid yang pada umumnya larut dalam air. Anthosianin tersusun oleh sebuah aglikon yang berupa anthosianidin yang teresterifikasi dengan molekul gula yang bisa satu atau lebih. Gula yang sering ditemukan adalah glukosa, ramnosa, galaktosa, xilosa dan arabinosa. Anthosianin yang mengandung satu molekul gula disebut monosida, dua gula disebut diosida dan tiga gula disebut triosida.

Terdapat enam jenis anthosianidin yang sering terdapat dialam, yang penting untuk makanan yaitu pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, petunidin dan malvinidin. Semua anthosianidin merupakan derivatif dari struktur dasar kation flavilium. Pada molekul flavilium terjadi subsitusi dengan molekul OH dan Ome untuk membentuk anthosianidin.

Warna pigmen anthosianin merah, biru, violet dan biasanya terdapat pada bunga- buah-buahan dan sayur-sayuran. Warna pigmen dipengaruhi oleh konsentrasi pigmen, dan pH. Pada konsentrasi yang encer anthosianin berwarna biru, sebaliknya pada konsentrasi pekat berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu. Pada pH rendah pigmen anthosianin berwarna merah dan pada pH tinggi berubah menjadi violet dan kemudian menjadi biru.

Pewarna sintetik, perkembangan zat pewarna sintetik cukup pesat Di Amerika Serikat pada tahun 1906 dikeluarkan suatu peraturan yang disebut Food and Drug Act yang memuat tujuh macam zat pewarna yaitu orange no 1, erythrosin, ponceau 3R, amarant, indigotine, naphtol yellow dan ligth green.

Pada tahun 1938 di Amerika juga telah dikeluarkan peraturan baru yaitu yang disebut Food, Drug and Cosmetic Act (FD&C). yang memperluas ruang lingkup peraturan tahun 1906 dan mengatur penggunaan zat pewarna. Zat pewarna dapat digolongkan atas tiga kategori yaitu FD&C Color, D&C Color, dan Ext D&C. FD&C Color adlah zat pewarna yang dizinkan untuk makanan, obat-obatan dan kosmetik. D&C diijinkan penggunaanya dalam obat-obatan dan kosmetik, sedangkan untuk bahan makanan dilarang. Ext D&C diijinkan dalam jumlah terbatas pada obat-obat luar dan kosmetik. Berikut ini Tabel 3 adalah daftar bahan pewarna makanan yang terdaftar pada FAO/WHO dan UK

Di Indonesia, karena undang-undang penggunaan zat pewarna belum ada (hingga saat ini aturan penggunaan zat warna sintetik diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI tanggal 22 Oktober 1973 No. 11332/A/SK/73), terdapat kecenderungan penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan makanan. Dari hasil pemantauan dan penelitian YLKI mulai tahun 1979, pengunaan pewarna pada berbagai produk diperlihatkan pada Tabel 4. Tabel tersebut menunjukkan bahwa masih banyak penggunaan bahan terlarang sebagai pewarna. Pewarna terlarang yang masih sering dipakai adalah orange RN, auramine, rhodamine B dan methanil yellow. Timbulnya penyalahgunaan zat pewarna tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat mengenai zat pewarna untuk makanan, atau disebabkan karena tidak adanya penjelasan dalam label yang melarang penggunaan senyawa tersebut untuk bahan pangan. Disamping itu, harga zat pewarna untuk industri relatif lebih murah dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk makanan

Tabel 3. Pewarna makanan yang terdaftar pada FAO/WHO dan UK

FAO/WHO list :as at May 1977 (many whit conditional use)

UK list : 1960

UK list : added by 1975

Acid Fuchsine FB

Amaranth

Black 7984**

Allura Red AC

Azorubine

Briliant Blue FCF***

Amaranth

Brilliant Black BN

Fast Yelow AB**

Azorubine (Carmoisine)

Blue VRS*

Patent Blue V

Briliant Black BN

(t)Brown FK***

Indianthrene Blue RS**

Brulliant Blue FCF

Chocolate Brown FB***

Brown FK

(t) Chocolate Brown HT ***

Chocolate Brown HT

Erythrosine BS

Chrysone

Fast Red E*

Eosin

Green S

Erythrosine

Indigo Carmine

Fast Gree FCF

Naphthol Yellow S*

Fast Red E

Oil Yellow GG*

Fast Yellow AB

Oil Yellow XP*

Green S

Orange G ***

Indanthrene (Solanthrene)

Orange RN**

Blue RS

Ponceau MX*

Indigo Carmine (Indigotine)

Ponceau SX*

Patent Blue V

Ponceau3R*

Ponceau 4R

Ponceau 4R

Ponceau 6R

Qunoline Yellow

Qunoline Yellow

(1)Red 2G***

Red 2G

Red 6B*

Red 10B

Red 10B*

Scarlet GN

Red FB*

Sudan G

Sunset Yellow FCF

Sunset Yellow FCF

Tatrazine

Tatrazine

Violet BNP

Violet 5BN

Yellow 2G***

Yellow 2G

Yellow RFS*

Yellow 27175N

Yellow RY*

Keterangan : * : Colours removed from UK list by 1975, ** : colours removed in 1976, *** : Colours not in EEC list, but with 3 years temporary permit ifmarket (t), *** : current volunrtary ban on use

Ibuprofen

Cara kerja ;

Ibuprofen merupakan derivat asam fenil propionat dari kelompok obat antiinflamasi non steroid. Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG-G2 terganggu.
Prostaglandin berperan pada patogenesis inflamasi, analgesia dan demam. Dengan demikian maka ibuprofen mempunyai efek antiinflamasi dan analgetik-antipiretik.
Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih besar dari pada asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap lambung.

Pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan protein plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1 – 2 jam setelah pemberian. Adanya makanan akan memperlambat absorbsi, tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorbsi. Metabolisme terjadi di hati dengan waktu paruh 1,8 – 2 jam. Ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolit inaktif, sempurna dalam 24 jam.Indikasi Terapi simptomatik rematoid artritis dan osteoartritis, mengurangi rasa nyeri setelah operasi pada gigi dan dismenore.Dosis

Dewasa : 200 – 400 mg , 3 – 4 kali sehari.

Efek Samping

Efek samping adalah ringan dan bersifat sementara berupa mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri lambung, ruam kulit, pruritus, sakit kepala, pusing dan heart burn.

Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, serta anak dibawah usia 14 tahun.
Penderita dengan syndroma nasal polyps, angioderma dan reaksi bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain. Dapat menyebabkan reaksi anafilaktik.

Interaksi Obat

Asetosal (aspirin).

Dosis ibuprofen lebih dari 2,4 g per hari, dapat menggantikan warfarin dari ikatannya dengan protein plasma.

Cara Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering.

PerhatianHati-hati pemberian pada penderita tukak lambung atau mempunyai riwayat tukak lambung dan penderita payah jantung, gangguan fungsi ginjal, hipertensi.
Hati-hati pada penderita yang sedang mendapatkan antikoagulan kumarin.

ibuprofen adalah sejenis obat yang tergolong dalam kelompok antiperadangan non-steroid (nonsteroidal anti-inflammatory drug) dan digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat artritis. Ibuprofen juga tergolong dalam kelompok analgesik dan antipiretik. Obat ini dijual dengan merk dagang Advil, Motrin, Nuprin dan Brufen.

Ibuprofen selalu digunakan sebagai obat sakit kepala. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengurangi sakit otot, nyeri haid, salesma, flu dan sakit selepas pembedahan.

Nama kimia ibuprofen ialah asam 2-(4-Isobutil-fenil)-propoinat.

Ibuprofen ada dalam dua enantiomer. Hanya S-Ibuprofen saja yang digunakan sebagai penahan sakit.

OBAT ANALGESIK ANTIPIRETIK

Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.

Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :

1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.

Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

Ada 3 golongan obat ini yaitu :

1. Obat yang berasal dari opium-morfin,

2. Senyawa semisintetik morfin, dan

3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin.

Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.

Farmakokinetik

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Obat bekerja memberikan efek terapi sangat bergantung pada jumlah obat yang sampai pada tempat sasarannya serta lamanya obat tinggal di tempat tersebut, yang bisa dikaji melalui studi farmakoninetika. Studi ini memberikan manfaat diantaranya :

- mencegah antaraksi obat yang tidak diinginkan

- melakukan penyesuaian posologi pada kasus gagal ginjal atau hati

- merencanakan skema terapik obat baru

- mendeteksi perbedaan individual dalam metabolisme obat

- menangani obat yang kurang aman

Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis dari moel berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau metabolitnya dalam darah, urine atau cairan hayati lainnya. Darah merupakan tempat yang paling cepat dicapai obat dan paling ideal sebagai data penetapan kadar obat dalam tubuh, karena darah yang mengambil obat dari tempat absorpsi lalu menyebarkannya ke tempat kerja dan membuangnya melalui proses eliminasi.

B. Tujuan

Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan :

1. Memahami proses in vivo dan perkembangan kadar obat dalam darah setelah pemberian obat secara oral.

2. Mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala semilogaritmik.

3. Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetika obat yang berkaitan dengan pemberian dalam dosis tunggal secara peroral.


BAB II

KERANGKA TEORI

Ibuprofen adalah sejenis obat yang tergolong dalam kelompok antiperadangan non-steroid (nonsteroidal anti-inflammatory drug) dan digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat artritis. Ibuprofen juga tergolong dalam kelompok analgesik dan antipiretik. Obat ini dijual dengan merk dagang Advil, Motrin, Nuprin dan Brufen.

Ibuprofen selalu digunakan sebagai obat sakit kepala. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengurangi sakit otot, nyeri haid, salesma, flu dan sakit selepas pembedahan.

Nama kimia ibuprofen ialah asam 2-(4-Isobutil-fenil)-propoinat. Ibuprofen ada dalam dua enantiomer. Hanya S-Ibuprofen saja yang digunakan sebagai penahan sakit.

Cara Kerja

ibuprofen merupakan derivat asam fenil propionat dari kelompok obat antiinflamasi non steroid. Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG-G2 terganggu.

Prostaglandin berperan pada patogenesis inflamasi, analgesia dan demam. Dengan demikian maka ibuprofen mempunyai efek antiinflamasi dan analgetik-antipiretik.

Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih besar dari pada asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap lambung. Pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan protein plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1 – 2 jam setelah pemberian. Adanya makanan akan memperlambat absorbsi, tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorbsi. Metabolisme terjadi di hati dengan waktu paruh 1,8 – 2 jam. Ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolit inaktif, sempurna dalam 24 jam.Indikasi Terapi simptomatik rematoid artritis dan osteoartritis, mengurangi rasa nyeri setelah operasi pada gigi dan dismenore.Dosis Dewasa : 200 – 400 mg , 3 – 4 kali sehari.


Efek Samping

Efek samping adalah ringan dan bersifat sementara berupa mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri lambung, ruam kulit, pruritus, sakit kepala, pusing dan heart burn.


Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, serta anak dibawah usia 14 tahun. Penderita dengan syndroma nasal polyps, angioderma dan reaksi bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain. Dapat menyebabkan reaksi anafilaktik.

Interaksi Obat

Asetosal (aspirin). Dosis ibuprofen lebih dari 2,4 g per hari, dapat menggantikan warfarin dari ikatannya dengan protein plasma.


Cara Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering. Perhatian : Hati-hati pemberian pada penderita tukak lambung atau mempunyai riwayat tukak lambung dan penderita payah jantung, gangguan fungsi ginjal, hipertensi. Hati-hati pada penderita yang sedang mendapatkan antikoagulan kumarin.

Uji in Vitro

Tidak satupun uji in vitro sederhana yang dapat mencerminkan dengan sempurna ketersediaan hayati suatu zat aktif yang terdapat dalam sediaan dengan aksi di perpanjang.

Dalam hal ini uji penghancuran tidak dapat diterapkan, kecuali uji pelarutan dan pelepasan zat aktif.

Berbagai teknik berbeda yang digunakan dalam uji in vitro, digunakan sebagai uji pendahuluan pada pengembangan sediaan farmasi dan untuk mengontrol reprosidibilitas pelepasan zat aktif selama fabrikasi. Percobaan tersebut juga untuk membuktikan cara pelepasan dan penetapan laju pelepasan.

Pemilihan alat harus merupakan fungsi dari bentuk sediaan farmasi yang diteliti terutama tentang kelarutan zat aktif dalam cairan pelarutan. Perlu dijaga agar larutan tidak segera menjadi jenuh karena hal ini dapat menghambat pelarutan dan memberikan penilaian yang salah. Dengan demikian harus digunakan volume cairan yang cukup.

pH dan kekuatan ion cairan dapat juga berpengaruh. Metoda yang dilaksanakan pada berbagai pH cairan pelarutan memberikan gambaran yang lebih tepat. Jadi obat harus dapat melepaskan zat aktif selama 6 – 10 jam, bila kontak dengan berbagai pH saat melintasi saluran cerna. Selain itu dapat juga digunakan metoda "perubahan setengah" dari Munzel (7) yang menggunakan siklus pH.

Selain itu harus pula dipertimbangkan adanya aktivitas enzimatik yang mengenai sediaan, sehingga ke dalam cairan pelarutan harus ditambahkan enzim tertentu.

Pengadukan yang menggambarkan gerakan usus harus pula diperhatikan. Hal tersebut dapat berpengaruh atau tidakk berpengaruh pada pelepasan zat aktif dari sediaan (48). Pengocokan harus cukup untuk memudahkan penembusan zat aktif ke dalam cairan sesudah meninggalkan sediaan, tetapi jangan terlalu keras agar tidak merusak sediaan dan untuk menjaga integritasnya (terutama matriksnya). Bila mungkin, sebaiknya bekerja pada bagian pelepasan berubah yang diisolir, hal ini terjadi bila bagian yang pelepasannya cepat dapat dipisahkan.

- Suatu teknik yang sering digunakan untuk jenis tersebut adalah teknik botol berputar dari Souder dan Ellenbogen (47).

- Alat "diffutest" (39) dapat untuk menguji mikrokapsul yang didasarkan atas prinsip yang sama.

- Metoda lain yang dapat digunakan dan telah dibakukan adalah metda dengan beker "levy" atau sel dengan aliran yang berkesinambungan. Sedangkan brossard (6) membandingkan hasil yang diperoleh dengan menggunakan sel beraliran berkesinambungan tersebut dan alat Poole (40) yang memberikan gambaran dan keadaan percobaan. Alat Poole tepat digunakan untuk pengujian yang rutin, teknik pengaliran berkesinambungan dapat untuk mempelajari lebih mendalam penggunaan dua sistem bersamaan.

Selain itu dapat juga dilakukan pengujian pelepasan zat aktif melintasi membran sistetik lipida untuk uji penyerapan di saluran cerna (alat RESOMAT dari DIBBERN atau alat SARTORIUS dari Stricker).

Tergantung pada jenis alat, mak tetapan laju pelepasan dapat ditentukan dengan cara setepat mungkin.

Tetapan laju pelepasan yang dilakukan dengan secara in vitro tidak bermakna bila tidak disertai uji in vivo. Uji tersebut tidak mengabaikan lama arespons farmakologis kecuali bila korelasi yang tepat dapat dinyatakan dengan pengukuran kadar obat dalam darah.

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

- Tabung reaksi - Pipet tetes

- Fortex - Labu ukur 10 ml

- Sentrifuge - Etanol 96%

- Larutan Ibuprofen - Asam tri fosfat

B. Prosedur Kerja

1. Buat konsetrasi larutan ibuprofen sesuai dengan penentuan panjang gelombang maksimal atau serapan (A = 0,2 - 0,8)

2. Pipet 0,5 ml plasma lalu masukkan ke dalam tabung reaksi

3. Tambahkan dari tiap-tiap konsentrasi sebanyak 500 µg, masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi plasma.

4. Tambahkan H3PO4 , tambah aseton nitril sebanyak 1 ml

5. Kocok ke dalam fortex selama 1 menit

6. Sentrifuge pada 1500 rpm selama 10 menit

7. Ambil 0,5 ml supernatan + etanol 96% (5ml)

8. Sentrifuge dengan kecepatan 1500 rpm selama 10 menit

9. Ukur serapan supernatan dengan spektrofotometer



0,5 ml plasma dlm tabung reaksi + lart. Ibuprofen (0,5ml)

(di fortex selama 1 menit)


+ H3PO4 0,5 ml + aseton nitril 0,5 ml dio fortex selama 1 menit


Sentrifuge pada 1500 rpm selama 10 menit

Pipet supernatan + etanol 96% (0,5 ml)




Sentrifuge pada 1500 rpm selama 10 menit

Pipet supernatan + etanol 96% (0,5 ml)

Sentrifuge pada 1500 rpm selama 10 menit

Pipet supernatant, ukur serapan dengan spektrofotometer


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Perhitungan

- Data kalibrasi

Rentang (mg)

Konsentrasi (µg/ml)

100

0,192

200

0,331

300

0,509

400

0,688

500

0,831

a = 0,0197

b = 0,001635

r = 0,9989

- Data Hasil Spektro

Absorban

Konsentrasi (µg/ml)

0,588

347,68

0,719

427,54

0,024

335,62

1. y = a + bx

0,588 = 0,0197+ 0,001635 x

X = 347,584 µg/ml

Fp = 347,584 µg/ml x 10 ml x 100 ml

2

= 173792 µg = 173,792 mg


% kadar = 173,792 mg x 100 %

200 mg

= 86,896 %

2. y = a + bx

0,719 = 0,0197+ 0,001635 x

X = 427,7064 µg/ml

Fp = 427,7064 µg/ml x 10 ml x 100 ml

2

= 213853 µg = 213,853 mg

% kadar = 213,853 mg x 100 %

200 mg

= 106,9265 %

3. y = a + bx

0,024 = 0,0197+ 0,001635 x

X = 2,6299 µg/ml


Fp = 2,6299 µg/ml x 10 ml x 100 ml

2

= 1314,95 µg = 1,31495 mg



% kadar = 1,31495 mg x 100 %

200 mg

= 0,65747 %

* Rata-rata persen kadar = 86,896 % + 106,9265 % + 0,65747 %

3

= 64,8266 %

B. Pembahasan

Hasil perhitungan pada praktikum yang kami lakukan menunjukkan bahwa kadar persen rata-rata tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai dengan ketentuan yang tertera pada farmakope berkisar antara 90% - 110%.

Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya ketelitian kami dalam melakukan prosedur kerja dalam praktikum, yaitu sebagai berikut :

1. Penguasaan dalam penggunaan alat yang masih kurang.

2. Kemungkinan terjadi kesalahan dalam pemipetan pada waktu memipet H3PO4 dan aseton nitril serta pemipetan supernatan yang kurang teliti

3. Penambahan etanol yang kurang tepat pada sampel yang keruh sehingga mempengaruhi hasil pengukuran spektrofotometer. Apabila penambahan etanol lebih banyak maka hasil yang didapat akan lebih tinggi dan sebaliknya jika etanol lebih sedikit maka hasilnya akan lebih rendah.

4. Pengenceran pada blanko kurang sesuai.



BAB V

KESIMPULAN

Hasil pengukuran persen kadar rata-rata yang didapat pada praktikum adalah 64,8266 %. Hasil ini sesuai tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai dengan ketentuan yang tertera pada farmakope berkisar antara 90% - 110%.

Hal ini disebabkan karena penguasaan dalam penggunaan alat yang masih kurang. Kemungkinan terjadi kesalahan dalam pemipetan pada waktu memipet H3PO4 dan aseton nitril serta pemipetan supernatan yang kurang teliti, penambahan etanol yang kurang tepat pada sampel yang keruh sehingga mempengaruhi hasil pengukuran spektrofotometer, pengenceran pada blanko kurang sesuai.



DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J. Ph. Devissaguet, Farmasetika 2. Biofarmasi. Edisi Ke-2. Jakarta : Airlangga University Press.

Tim Penyusun Jurusan Farmasi UHAMKA. 2008. Penuntun Praktikum Farmakokinetika. Jakarta.